Showing posts with label Kebijakan Lingkungan. Show all posts
Showing posts with label Kebijakan Lingkungan. Show all posts

Tuesday, April 23, 2013

Target MDGs Indonesia

Prioritas, Target, dan Pencapaian  Millennium Development Goals (MDGs) Indonesia
Pada September 2000, dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Millennium Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) sebanyak 189 Negara sepakat untuk mengadopsi Deklarasi Milenium yang kemudian dijabarkan dalam kerangka praktis. Tujuan Pembangunan Millennium (Millennium Development Goals/MDGs). MDGs yang menempatkan pembangunan manusia sebagai fokus, memiliki tenggat waktu (2015) dan indikator kemajuan yang terukur.

Saat ini, tersisa waktu sekitar 5 tahun bagi negara berkembang anggota PBB, untuk menyelesaikan dan mengupayakan pencapaian 8 tujuan Pembangunan Millennium (Millennium Development Goals/MDGs) – terkait pengurangan kemiskinan, pencapaian pendidikan dasar, kesetaraan gender, perbaikan kesehatan ibu dan anak, pengurangan prevalensi penyakit menular, pelestarian lingkungan hidup, dan kerjasama global. MDGs yang didasarkan pada konsesnsus dan kemitraan global ini, juga menekankan kewajiban negara maju untuk mendukung penuh upaya tersebut.

Komitmen Indonesia untuk mencapai MDGs adalah mencerminkan komitmen Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dan memberikan kontribusi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dunia. Karena itu, MDGs merupakan acuan penting dalam penyusunan Dokumen Perencanan Pembangunan Nasional. Pemerintah Indonesia telah mengarusutamakan MDGs dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN 2005 – 2025), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 2005 – 2009 dan 2010 – 2014), Rencana Pembangunan Tahunan Nasional (RKP), serta dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara(APBN).

Prioritas Pembangunan Nasional

Berdasarkan kondisi bangsa Indonesia saat ini, dengan memperhatikan tantangan yang dihadapi dalam 20 tahun mendatang, dan dengan memperhitungkan modal dasar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, maka Visi Pembangunan Nasional tahun 2005 – 2025 adalah Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur.

Untuk mencapai visi tersebut dilaksanakan melalui delapan Misi Pembangunan Nasional sebagai berikut :
  1. Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila.
  2. Mewujudkan bangsa yang berdaya – saing.
  3. Mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum.
  4. Mewujudkan Indonesia aman, damai, dan bersatu.
  5. Mewujudkan pemerataan pembangunan dan berkeadilan.
  6. Mewujudkan Indonesia asri dan lestari.
  7. Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri, maju, kuat dan berbasiskan kepentingan nasional dan,
  8. Mewujudkan Indonesia berperan penting dalam pergaulan dunia internasional.
Strategi untuk melaksanakan visi dan misi tersebut dijabarkan secara bertahap dalam periode lima tahunan yang tertuang dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) . Tahapan Pembangunan 5 Tahunan tersebut secara ringkas adalah sebagai berikut :
  1. RJPM ke – 1 (2005 – 2009) diarahkan untuk menata kembali dan membangun Indonesia di segala bidang yang ditujukan untuk menciptakan Indonesia yang aman dan damai, yang adil dan demokratis, dan yang tingkat kesejahteraan rakyatnya meningkat.
  2. RJPM ke – 2 (2010 – 2014) ditujukan untuk lebih memantapkan penataan kembali Indonesia di segala bidang dengan menekankan pada upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia termasuk pengembangan kemampuan iptek serta penguatan daya saing perekonomian.
  3. RPJM ke – 3 (2015 – 2019) ditujukan untuk lebih memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan menekankan pencapaian daya saing kompetitif perekonomian berlandaskan keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan iptek yang terus meningkat.
  4. RPJM ke – 4 (2020 – 2025) ditujukan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur melalui percepatan pembangunan di berbagai bidang dengan menekankan terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif di berbagai wilayah yang didukung oleh SDM berkualitas dan berdaya asing.
Dengan memperhatikan tahapan pembangunan periode lima tahunan tersebut diatas, pada saat ini pembangunan nasional telah sampai pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM ke – 2) tahun 2010 – 2014. Visi Pembangunan Nasional tahun 2010 – 2014 adalah sebagai berikut : Terwujudnya Indonesia yang sejahtera, demokratis, dan berkeadilan. Visi ini dijabarkan melalui tiga Misi Pembangunan Nasional yaitu : (1) Melanjutkan Pembangunan menuju Indonesia yang sejahtera, (2) memperkuat pilar – pilar demokrasi, (3) memperkuat dimensi keadilan di semua bidang.

Visi dan Misi Pembangunan Nasional 2010 – 2014 dirumuskan dan dijabarkan lebih operasional ke dalam sejumlah program prioritas nasional sebagai berikut : (1) reformasi birokrasi dan tata kelola; (2) pendidikan; (3) kesehatan; (4) penanggulangan kemiskinan; (5) ketahanan pangan; (6) infrastruktur; (7) iklim investasi dan usaha; (8) energi; (9) lingkungan hidup dan bencana; (10) daerah tertinggal, terdepan, terluar dan pascakonflik; (11) kebuadayaan, kreativits, dan inovasi teknologi. Disamping sebelas prioritas nasional tersebut di atas, upaya untuk mewujudkan Visi dan Misi Pembanguna Nasional juga melalui pencapaian prioritas nasional lainnya di bidang politik, hukum, dan keamanan, dibidang perekonomian, dan bidang kesejahteraan rakyat.

Pembangunan Indonesia Pascakrisis Global dan Capaian Target MDGs

Dalam lima tahun terakhir, di tengah kondisi negara yang belum sepenuhnya pulih dari krisis ekonomi tahun 1997 / 1998, Indonesia menghadapi tantangan global yang tidak ringan. Beberapa diantaranya yang terpenting adalah gejolak harga minyak, harga pangan, perubahan iklim global serta (kembali) terjadinya krisis keuangan global 2007 / 2008. Krisis ekonomi global telah berpengaruh pula terhadap kinerja perekonomian dalam negeri. Tingkat pertumbuhan menurun menjadi sekitar 4 – 5 %, dibandingkan dengan pertumbuhan sebelum krisis yang sebesar 5 – 6 %. Kenaikan harga pangan yang menjadi pengeluaran rumah tangga terbesar di kelompok masyarakat menengah bawah dan miskin semakin menimbulkan  beban. Perubahan iklim yang ekstrem telah meningkatkan curah hujan tinggi, berdampak pada kegagalan pertanian dan kerusakan aset masyarakat. Dalam lingkungan global yang kurang menguntungkan tersebut Indonesia secara bertahap terus menata dan membangun di segala bidang.

Berbagai krisis dan tantangan global tersebut, memberikan pelajaran bahwa globalisasi yang memiliki dua sisi berbeda berupa peluang dan tantangan, harus dihadapi oleh sebuah bangsa dalam kesiapan penuh di segala bidang.

Pertumbuhan ekonomi yang positif serta penguatan institusi demokrasi selama sepuluh tahun terakhir, pada gilirannya memperkut posisi bangsa untuk mempercepat pencapaian MDGs. Saat ini Indonesia adalah bangsa demokratis berpenduduk ketiga terbesar di dunia. Indonesia telah mampu memperbaiki status ekonominya menjadi negara berpendapatan menengah. Bangsa Indonesia juga telah bekerja secara konsisten selama dekade terakhir untuk mencapai target – target MDGs.  Meskipun masih banyak tantangan dan permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan pembangunan di Indonesia, pemerintah tetap bertekad untuk memenuhi komitmen pencapaian target dan sasaran MDGs tepat waktu.

Alokasi dana dalam anggaran nasional dan daerah sebagai upaya mendukung pencapaian tujuan pembangunan millennium di Indonesia telah meningkat dari tahun ke tahun. Hal tersebut dilakukan untuk mempercepat pencapaian tujuan – tujuan nasional tersebut. Menetapkan sasaran terukur yang berkaitan dengan MDGs yang dapat dimonitor dan dievaluasi kemajuannya telah terbukti efektif dalam meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya. Pada gilirannya, evaluasi kemajuan kinerja pencapaian MDGs tersebut berguna dalam menyesuaikan perencanaan agar lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat miskin dan kelompok rentan.

Dengan memperhatikan kecenderungan dan capaian target – target MDGs, pencapaian MDGs sampai saat ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori pencapaian MDGs, meliputi : (a) target yang telah dicapai; (b) target yang telah menunjukkan kemajuan signifikan; (c) target yang masih memerlukan upaya keras untuk pencapaiannya.

Target MDGs yang telah dicapai, mencakup :
  • MDG 1 – Tingkat kemiskinan ekstrem, yaitu proporsi penduduk yang hidup dengan pendapatan per kapita kurang dari USD 1 per hari, telah menurun dari 20,6 persen pada tahun 1990 menjadi 5,9 persen pada tahun 2008.
  • MDG 3 – target untuk kesetaraan gender dalam semua jenis dan pendidikan diperkirakan akan tercapai. Rasio APM perempuan terhadap laki – laki di SD/MI/Paket A dan SMP/MTs/Paket B berturut – turut sebesar 99,73 persen dari 101,99 persen pada tahun 2009, dan rasio melek huruf terhadap laki – laki pada kelompok usia 15 – 24 tahun telah mencapai 99,85 persen.
  • MDG 6 – Terjadi peningkatan penemuan kasus tuberkolosis dari 20,0 persen pada tahun 2000 menjadi 73,1 persen pada tahun 2009, dari target 70,0 persen dan penurunan prevalensi tuberkolosis dari 443 kasus pada 1990 menjadi 244 kasus per 100.000 penduduk pada tahun 2009.
Target MDGs yang telah menunjukkan kemajuan signifikan mencakup :

  • MDG 1 – Prevalensi balita kekurangan gizi telah berkurang hampir setengahnya, dari 31 persen pada tahun 1989 menjadi 18,4 persen pada tahun 2007. Target 2015 sebesar 15,5 persen diperkirakan akan tercapai.
  • MDG 2 – Angka partisipasi murni untuk pendidikan dasar mendekati 100 persen dan tingkat melek huruf penduduk melebihi 99,47 persen pada 2009.
  • MDG 3 – Rasio APM perempuan terhadap laki – laki di SM/MA/Paket C dan pendidikan tinggi pada tahun 2009 adalah 96,16 dan 102,95. Dengan demikian maka target 2015 sebesar 100 diperkirakan akan tercapai.
  • MDG 4 – Angka kematian balita telah menurun dari 97 per 1.000 kelahiran pada tahun 1991 menjadi 44 per 1.000 kelahiran pada tahun 2007 dan diperkirakan target 32 per 1.000 kelahiran pada tahun 2015 dapat tercapai.
  • MDG 8 – Indonesia telah berhasil mengembangkan perdagangan serta sistem keuangan yang terbuka, berdasarkan aturan, bisa diprediksi dan non – diskriminatif – terbukti dengan adanya kecenderungan positif dalam indikator yang berhubungan dengan perdagangan dan sistem perbankan nasional. Pada saat yang sama, kemajuan signifikan telah dicapai dalam mengurangi rasio pinjaman luar negeri terhadap PDB dari 24,6 persen pada 1996 menjadi 10,9 persen pada 2009. Debt Service Ratio juga telah dikurangi dari 51 persen pada tahun 1996 menjadi 22 persen pada tahun 2009.

Target MGDs yang telah menunjukkan kecenderungan pencapaian yang baik namun masih memerlukan kerja keras untuk pencapaian target pada tahun 2015, mencakup :
  1. MDG 1 – indonesia telah menaikkan ukuran untuk target pengurangan kemiskinan dan akan memberikan perhatian khusus untuk mengurangi tingkat kemiskinan yang diukur terhadap garis kemiskinan nasional dari 13,33 persen (2010) menjadi 8 – 10 persen pada tahun 2014.
  2. MDG 5 – Angka kematian ibu menurun dari 390 pada tahun 1991 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007. Diperlukan upaya keras untuk mencapai target pada tahun 2015 sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup.
  3. MDG 6 – Jumlah penderita HIV/AIDS meningkat, khususnya di antara kelompok resiko tinggi pengguna narkoba suntik dan pekerja seks. Tingkat kenaikan juga sangat tinggi di beberapa daerah di mana kesadaran tentang penyakit ini rendah.
  4. MDG 7 – Indonesia memiliki tingkat emisi gas rumah kaca yang tinggi, namun tetap berkomitmen untuk meningkatkan tutupan hutan, menghilangkan pembalakan liar dan mengimplementasikan kerangka kerja kebijakan untuk mengurangi emisi karbon dioksida paling sedikit 26 persen selama 20 tahun ke depan. Saat ini hanya 47,73 persen rumah tangga yang memiliki akses berkelanjutan terhadap air minum layak dan 51,19 prsen yang memiliki akses sanitasi yang layak. Diperlukan perhatian khusus, untuk mencapai target MDG tahun 2015.

Keberhasilan pembangunan Indonesia, telah menuai berbagai prestasi dan penghargaan dalam skala global. Kemajuan pembangunan ekonomi dalam lima tahun terakhir, talah mengurangi ketertinggalan Indonesia dari negara – negara maju.

Negara – negara maju yang tergabung dalam OECD (Organization of Economic and Cooperation Development) mengakui dan mengapresiasi kemajuan pembangunan Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia bersama Cina, India, Brazil, dan Afrika Selatan diundang untuk masuk dalam kelompok ‘enhanced engagement countries’ atau negara yang makin ditingkatkan keterlibatannya dengan negara – negara maju. Indonesia juga sejak tahun 2008 tergabung dalam kelompok Group – 20 atau G – 20, yaitu dua puluh negara yang menguasai 85 persen Pedapatan Domestik Bruto (PDB) dunia, yang memiliki peranan sangat penting dan menentukan dalam membentuk kebijakan ekonomi global.



Sunday, April 14, 2013

Azas Ilmu Lingkungan

Berbagai macam Azas Ilmu Lingkungan

Energi dapat pindah dari suatu bentuk ke bentuk lain, tetapi tidak dapat dihancurkan atau diciptakan. Energi yang memasuki organisme hidup, populasi atau ekosistem dapat dianggap sebagai energi yang tersimpan atau terlepaskan.

Sistem kehidupan dapat dianggap sebagai pengubah energi. Ada berbagai strategi untuk mentransformasikan energi. Jika ada pembukuan ke luar masuk uang dalam perusahaan, maka sebaiknya ada pembukuan kalori dalam sistem kehidupan. Misalnya energi yang masuk berupa bahan makanan dan yang keluar untuk pertumbuhan, kembang biak, proses metabolisme, dan sebagainya dan berapa yang terbuang. Energi yang terbuang dapat berbentuk tinja, yang dihisap oleh parasit dalam tubuh, dan sebagainya. Proses metabolisme pada hewan terdiri dari beberapa komponen. Pertama, ialah metabolisme dasar, yakni untuk tetap melakukan kegiatan tubuh.

Energi yang masuk ke dalam tubuh akan mengalami pemisahan ke dalam berbagai komponen dengan tujuan yang berbeda - beda. Pemisahan pertama ialah karena ada energi yang tidak berasimilasi atau terbuang. Pemisahan kedua karena ada energi untuk bahan bakar dan untuk pertumbuhan, pembentukan materi bahan hidup. Pemisahan ketiga karena ada energi yang diambil oleh parasit atau pemangsa. Keempat ialah yang digunakan untuk disimpan sebagai lemak dan untuk digabung dengan bahan lain untuk pembiakan dan pertumbuhan, yakni protein. Kelima ialah pemisahan energi untuk pembiakan pertumbuhan. Keenam pemisahan energi untuk mejalankan metabolisme dasar dan bahan bakar untuk berbagai kegiatan.

Setiap pemasukan energi akan terbagi menjadi dua keluaran. Jika organisme berhasil dalam pengubahan biomassa maka jumlah populasi akan baik (manusia, tikus, enceng gondok, belalang). Sebaliknya populasi akan menurun (orang Aztek, orang utan simiang). Untuk itu semua setiap spesies mempunyai strategi dan taktik dalam transformasi energi. Koefisien pemisahan energi untuk berbagai komponen untuk berbagai spesies berbeda. Misalnya koefisien pemisahan energi untuk tumbuh dan berbiak pada ikan paus biru ialah 0.97 dan 0.03 Artinya lebih banyak energi digunakan untuk pertumbuhan daripada untuk pembiakan. Ikan paus seperti ini hanya melahirkan seekor anak dalam jangka dua tahun.

Pada hewan kecil seperti tikus tanah dan berbagai serangga koefisien pemisahan berkisar antara 0.60 untuk pertumbuhan dan 0.40 untuk pembiakan. Pada kasus pertama pembiakan sedikit tetapi bayi tumbuh amat cepat sehingga lekas mampu melawan musuh ataupun hambatan alam lain, pada kasus kedua jumlah keturunan banyak, tetapi pertumbuhan lambat. Bagaimana halnya pada manusia? Uraian diatas adalah asas pertama ilmu lingkungan.

Asas kedua diambil dari hukum thermodinamika kedua, yakni tidak ada sistem pengubahan energi yang betul - betul efisien. Jadi meskipun energi itu tidak pernah hilang di alam ini, tetapi energi itu akan terus diubah ke dalam bentuk yang kurang bermanfaat.

Asas ketiga menyangkut sumber alam. Materi, energi, ruang, waktu dan keanekaragaman semuanya termasuk kategori sumber alam. Pengubahan energi oleh sistem biologi diharapkan berlangsung pada kecepatan yang sebanding dengan materi dan energi yang ada di alam lingkungannya. Tetapi jika ruang tempat populasi amat sempit, ada kemungkinan terjadi gangguan dalam proses pembiakan. Yang jantan akan berkelahi berebutan, menimbulkan gangguan dalam proses pembiakan. Sebaliknya ruang yang terlalu luas maka individu populasi akan berjauhan. Prospek pertemuan untuk proses pembiakan juga makin kecil. Karena itu ruang termasuk kategori sumber alam.

Asas Keempat dinamakan asas penjenuhan. Kemampuan lingkungan habitat untuk menyokong suatu materi ada batasnya. Kemampuan untuk menyokong pencemar ada batasnya. Batas tertinggi untuk menyokong ini disebut kapasitas bawa, yang oleh Harper White dirumuskan sebagai berikut : C = W.P3/c

Jika C = kapasitas bawa, W - bobot rata - rata individu suatu populasi, dan p = kepadatan (kerapatan) populasi.

Asas kelima menyangkut pengaturan populasi dengan faktor ketergantungan pada kepadatan. Asas Keenam menyangkut persaingan. Individu dan species yang mempunyai lebih banyak keturunan daripada saingannya, akan cenderung berhasil mengalahkan saingannya. Asas Ketujuh menyangkut keteraturan yang pasti dalam suatu lingkungan dalam periode relatif lama. Asas Kedelapan menyangkut habitat dan keanekaragaman takson.

Asas Kesembilan menyangkut tentang Keanekaragaman sebanding dengan biomassa / produktivitas. Asas kesepuluh berbunyi : Pada lingkungan yang stabil, perbandingan antara biomassa dengan produktivitas B/P dalam perjalanan waktu akan mencapai sebuah asimtot. Asas Kesebelas menyangkut sistem yang mantap (dewasa) mengeksploitasi sistem yang belum dewasa. Asas Keduabelas lahir dari asas keenam dan ketujuh. Asas Ketigabelas adalah perkembangan asas ketujuh, sembilan, dan duabelas.



Sunday, January 20, 2013

Karakteristik Hutan Tropik

Fungsi dan Karakteristik Hutan Tropis

Kawasan hutan di Indonesia mempunyai tipe ekosistem khusus. Karena letaknya di kawasan tropika, maka kawasan hutan di Indonesia digolongkan dalam kawasan hutan tropika. Kawasan ekosistem hutan tropika sendiri mempunyai cakupan seluruh kawasan hutan yang terletak di antara 23 ½ 0 LU - 23 ½ 0 LS. Di dunia kawasan yang masih mempunyai hutan tropika tersebar di tiga lokasi, yakni Amerika (Amazone) dengan dominasi tumbuhan dari famili leguminoceae, Asia Tenggara (Indomalayan) yang didominasi oleh tumbuhan dari famili Dipterocarpaceae , dan daerah Zaire (Kongo) dengan dominasi tumbuhan dari famili melliceae.

Fungsi Hutan Tropika
Secara garis besar, fungsi Hutan Tropika dapat dibagi kedalam tiga fungsi utama yakni :

1. Fungsi Perlindungan


Adanya berbagai macam vegetasi yang tumbuh di kawasan ekosistem hutan tropika, menyebabkan tanah bawah vegetasi hutan tropika terlindungi dari sinar matahari secara langsung. Proses perlindungan tanah hutan tropika terjadi melalui proses penyerapan dan pemantulan radiasi sinar matahari oleh vegetasi di kawasan ini. Disamping itu adanya vegetasi juga bisa menjaga tingkat kelembaban dan kandungan CO2 melalui proses penahanan angin oleh vegetasi sehingga bisa membentuk suatu lingkungan yang cocok untuk organisme lain di lantai hutan.


2. Fungsi Pengontrol
Adanya Hutan tropika menyebabkan partikel-partikel udara yang berbahaya bagi mahluk hidup dapat dinetralisir. Melalui proses fotosintesis, tumbuhan menyerap CO2 suatu zat yang berbahaya bagi mahluk hidup dan mengeluarkan O2 yang berguna bagi kehidupan manusia. Dengan demikian adanya hutan tropika juga bisa dikatakan sebagai pengontrol tingkat pencemaran udara. Disamping itu hutan tropika juga berfungsi sebagai pengontrol tata air. Hutan tropika bisa menyimpan air dalam tanah dan kemudian mengeluarkannya dalam bentuk mata air dan sungai, dengan demikian siklus air menjadi lancar.

3. Fungsi Produksi

Hutan tropika bisa berfungsi sebagai produksi dalam bentuk berbagai hasil hutan baik kayu maupun non kayu seperti damar, resin, buah-bauhan, obat-obatan dan lain-lain. Bila kondisi lingkungan sesuai artinya ekosistemnya tidak terganggu, hutan tropika bisa mengatur proses regenerasi sendiri produksi hutannya.

Karakteristik Hutan Tropika

Ekosistem hutan tropika mempunyai karakteristik khusus, berbeda dengan ekosistem – ekosistem lainya. Adapun berbagai karakteristik tersebut antara lain
  • Mempunyai curah hujan yang tinggi, berkisar antara 2000 – 3000 cm / th.
  • Mempunyai perbedaan temperatur yang rendah.
  • Mempunyai kelembaban udara yang tinggi.
  • Mempunyai tajuk yang berlapis-lapis atau berstrata.
  • Mempunyai tingkat keaneka ragaman jenis atau Biodeversitas yang tinggi
  • Selalu hijau atau evergreen.
Hutan Tropika merupakan Ekosistem yang Labil Dibalik keindahan dan kelebatan hutan tropika, ternyata hutan tropika merupakan suatu ekosistem yang labil atau rentan. Kerentanan ekosistem ini disebabkan oleh beberapa sebab antara lain :

• Adaptasi terhadap lingkungan yang rendah

Ekosistem hutan tropika muncul setelah jaman Dinosaurus, ekosistem ini telah ada dan berkembang sejak jutaan tahun yang lalu dalam keadaan tertentu (tanpa gangguan atau campur tangan manusia), sehingga apabila terjadi kerusakan pada ekosistem ini yang disebabkan oleh kegiatan pembalakan atau lainnya, maka ekosistem hutan tropika akan mengalami kesulitan dalam memperbaiki kondisinya seperti sediakala dan proses ini akan memakan waktu yang sangat lama.

• Tingkat kesuburan tanah (soil fertility) yang rendah

Kebanyakan orang mengira kalau tanah di ekosistem hutan tropika adalah subur, ini dilihat dari banyaknya berbagai jenis pohon dan tumbuhan yang hidup didalamnya. Pohon-pohon yang tumbuh bisa mencapai diameter ratusan centimeter dan tingginyapun bisa mencapai puluhan meter. Hal ini memperkuat anggapan orang bahwa tanah di ekositem hutan tropika ini subur. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar, karena pada umumnya kondisi tanah pada ekosistem hutan tropika adalah tidak subur. Pohon-pohon dan tumbuhan tertentu saja yang dapat tumbuh pada ekosistem hutan tropika. Jenis-jenis pohon dan tumbuhan yang dapat tumbuh pada ekosistem hutan tropika adalah jenis-jenis yang tidak memerlukan nutrisi yang banyak dalam pertumbuhannya. Jenis-jenis pohon Dipterocarpaceae yang banyak tumbuh pada ekosistem hutan tropika adalah salah satu contohnya. Nutrisi yang diperlukan oleh tumbuhan banyak terdapat pada lapisan tanah atas (top soil), sedangkan top soil di hutan tropika relativ sedikit hanya beberapa centimeter dalamnya. Oleh karena itu sebenarnya tanah di hutan tropika kurang cocok untuk dijadikan areal pertanian yang memerlukan nutrisi yang banyak untuk pertumbuhannya.

Siklus Nutrisi yang tertutup (close nutrision cycle)

Hutan tropika mempunyai strategi yang unik untuk mengatasi kemiskinan hara makanan dalam tanah, berbeda sekali dengan hutan di daerah iklim sedang dan dingin. Bila kita telaah hutan tropis, akan terlihat bahwa sebenarnya tidak tersimpan dalam tanah, melainkan dalam tubuh tumbuhan yang masih hidup. Dalam sebuah ekosistem hutan, mahluk hidup merupakan gudang makanan. Namun pada kenyataannya pohon-pohon hidup itu selalu diancam oleh kematian dan serangan hewan herbivora setiap saat. Bila tumbuhan itu mati dan bersamaorganisme mati lainnya akan segera pula mengalami dekomposisi yang melepaskan hasilnya ke dalam tanah. 
 
Di daerah tropika yang lembab dan panas, dekomposisi berjalan sangat cepat, bila dibarengi curah hujan yang tinggi, maka hasil dekomposisi akan cepat hilang di bawa air tanah ke tempat lain. Ini berarti suatu kebocoran ekosistem. Kesuburan hilang, padahal cadangan dalam tanah tidak ada. Tetapi pada lapisan atas tanah tersebar rapat akar-akar halus atau bulu akar pohon-pohon, yang siap dengan cepat menyerap hara makanan dalam larutan air tanah. Penyerapan ni dibantu pula oleh kehadiran jamur yang bersimbiosisi dengan pohon dan membentuk mikoriza pada akar. Tidak jarang pula akar bulu dan meiselium (beneng-benang pada jamur) menembus langsung pada daun-daun mati yang sedang mengalami dekomposisi. Dengan cara itulah hara makanan yang dilepas oleh proses dekomposisi dengan cepat diserap dan dikembalikan ke dalam tubuh pohon untuk disintesis menjadi bahan yang lebih kompleks dan membentuk tubuh pohon itu lagi. Dengan demikian kemungkinan hara makanan hilang ke lingkungan lain dapat dicegah.

Sistem pendauran hara yang seperti inlah yang dinamakan dengan sisitem peredaran tertutup. Adanya kegiatan pembalakan merangsang akar untuk mengeluarkan nutrisi yang tersimpan ke dalam tanah, sehingga bila terjadi hujan akan mudah tercuci oleh air hujan (erosi). Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang tentunya sangat membutuhkan banyak dana untuk melakukan pembangunan. Salah satunya adalah memanfaatkan sumberdaya alam dalam hal ini hutan tropika. Melihat kerentanan-kerentanan ekosistem hutan tropika perlu adanya kearifan dalam memanfaatkan hutan tropika sehingga hutan tropika di Indonesia dapat memberikan manfaat yang optimal tanpa merusak kelestariannya.



Saturday, December 29, 2012

Ekosistem Pesisir dan Laut


Batasan dan Pengertian Ekosistem Pesisir dan Lautan

Sistem menyeluruh dari organisme dan lingkungan fisikalnya membentuk suatu ekosistem. Suatu ekosistem pada dasarnya tersusun oleh dua organisme fungsional utama yang disebut outotrof dan heterotrof. Autotrof adalah organisme yang dapat menggunakan bahan unorganik sebagai sumber makanannya seperti tumbuhan hijau dan bakteri yang dapat membentuk substansi yang kompleks. Heterotrof adalah binatang atau bakteria yang tergantung senyawa organik yang dihasilkan oleh binatang atau tumbuhan sebagai bahan makanannya; organisme tersebut tidak dapat menghasilkan makanannya sendiri dengan fotosintesis.

Suatu ekosistem pada umumnya tersusun oleh empat penyusun, yaitu :

  1. Bahan abiotik : air, udara, dan unsur – unsur seperti P,N2 dan O2
  2. Prosedur (penghasil) : tumbuhan hijau (seperti fitoplankton) yang dapat melakukan proses fotosintesis
  3. Konsumen (Pemakan) : sebagian besar binatang ; zooplankton yang memakan fitoplankton sebagai bahan untuk energinya
  4. Pembusuk (penghancur) : bakteria yang mampu menghancurkan (membusukkan) senyawa organik menjadi renik sehingga tersedia sebagai bahan makanan bagi tumbuhan dan bakteria.
Peranan dari organisme yang terdapat dalam suatu ekosistem pada dasarnya dideskripsikan menurut habitatnya. Habitat adalah suatu wilayah geografis yang ditempati oleh tumbuhan atau binatang, misalnya pesisir, eustaria dan laut lepas pantai. Wilayah geografis yang terdapat di pesisir dan lautan itu sangat bervariasi, sehingga dengan demikian ekosistem pesisir dan lautan itu juga beraneka ragam.

Atas dasar pengertian yang tersebut di atas dapat diformilasikan ekosistem pesisir dan lautan. Ekosistem pesisir adalah suatu ekosistem yang terdapat pada lingkungan wilayah pesisir dengan ciri organisme dalam mintakat neritik dan litoral.

Pengertian wilayah pesisir adalah suatu jalur saling pengaruh antara darat dan laut, yang memliki ciri geosfer yang khusus, arah kedarat dibatasi oleh pengaruh sifat fisik laut dan sosial ekonomi bahari, sedangkan arah ke laut dibatasi oleh pengaruh proses alami serta akibat kegiatan manusia terhadap lingkungan darat (BAKOSURTANAL, 1990)

Batas wilayah pesisir arah ke daratan tersebut di tentukan oleh :

  1. Pengaruh sifat fisik air laut, yang ditentukan berdasarkan seberapa jauh pengaruh pasang air laut, seberapa jauh flora yang suka akan air akibat pasang tumbuh (water louwing vegetation) dan seberapa jauh pengaruh air laut ke dalam air tanah tawar;
  2. Pengaruh kegiatan bahari (sosial), seberapa jauh konsentrasi ekonomi bahari (desa nelayan) sampai kearah selatan.
Wilayah pesisir atas dasar genesisnya dapat dibedakan menjadi satuan bentang lahan seperti di bawah ini :
  1. Rentang Pasut (Tidal Flat) : yaitu daerah di wilayah pesisir yang berawal atau berlumpur, tertutup air pada waktu air laut pasang.
  2. Gisik (beach) : yaitu daerah pesisir yang brada pada pertemuan daratan denga air laut, lerengnya landai, material pembentuknya kasar belum memadat, umumnya pasir, kerakal dan shingle.
  3. Beting Gesik (beach ridge) : yaitu daerah yang berujud gumuk memanjang, materialnya kasar yang berbatasan dengan gisik yang berbentuk oleh pengaruh gelombang.
  4. Lereng terjal di laut (Sea Cliff) : yaitu daerah berbatu dengan lereng terjal yang terbentuk oleh gelombang
  5. Teras Marin : yaitu suatu kenampakan di tepi laut yang dicirikan oleh kegiatan lereng yang relatif datar / dan dibatasi oleh takikan yang lebih curam. Teras Marin terbnetuk oleh proses abrasi yang cukup lama setelah terjadi perubahan muka air laut.
  6. Delta : yaitu suatu bentang lahan yang terbentuk di muara sungai baik di poerairan laut maupun danau ; delta terbentuk antara lain diakibatkan dasar muara sungai yang stabil dan dangkal, sedimen yang terbawa sungai cukup besar, perairan laut cukup tenang (gelombang dan arus tidak terlampau kuat).
  7. Gumuk pasir (Sand dunes) : adalah suatu bentang lahan yang dicirikan oleh bukit rendah (gumuk) yang tersusun oleh pasir, yang pembentukannya oleh proses Aeolin (angin).
Ekosistem pesisir kadang – kadang cirinya yang menonjol bukan lingkungan fisiknya, tetapi justru organisme yang mendominasi pada lingkungan fisik tersebut. Salah satu contoh adalah hutan mangrove dan terumbu karang. Dalam hal hutan mangrove dan terumbu karang tersebut maka tumbuhan mangrove karang yang mencirikan ekosistemnya.

Ekosistem laut (an) adalah suatu ekosistem perairan laut di laut ekosistem pesisir, yang dicirikan oleh kondisi organisme perairan, pelagic oseanik dan bentik batial, abisal dan handal. Perairan laut pelagic oseanik adalah perairan di laut dangkalan kontinen (continental sheif), yang mempunyai variasi geografis besar demikian juga kedalamannya. Distribusi temperatur dan salinitas dalam perairan laut pelagic oseanik relatif konstan, sedangkan distribusi penyinaran sangat bervariasi.

Perairan bentik betial mempunyai kedalaman atara 200 – 2.000 m, dasarnya berbatu atau berlumpur, abisal kedalamanny6a 2000 – 6000 m dan hadal kedalamannya lebih dari 6.000 m.

Faktor – faktor yang berpengaruh terhadap ekologis kelautan perlu diketahui dalam membicarakan ekosistem pesisir dan kelautan (an). Hubungan antara organisme di perairan laut dengan lingkungan harus memperhatikan faktor – faktor : penyinaran matahari, temperatur air, salinitas, tekanan, kadar CO2,O2, nutrisi, pH, dan kedalaman.

Faktor – faktor tersebut terutama digunakan untuk mengetahui tingkat proses fotosintesis dan resfirasi yang daapt digunakan untuk analisis siklus biogeokhemik. Topografi dasar lautan itu sangat bervariasi dari suatu tempat ke tempat lain dan dari waktu ke waktu. Secara garis beras topografi dasar laut (an) itu dibedakan menjadi :

a.    Tepian Kontinen: Tepian kontinen tersusun oleh dangkalan kontinen (shelf) lereng kontinen, tanjakan dan igir.

  1. Dangkalan (paparan) kontinen : adalah lanjutan dari topografi dan geologi dataran daerah yang berbatasan berada di bawah muka air laut, kedalamannya kurang dari 200 m, lereng landai (0,4%), lebar 50 – 70 km. Pada dangkalan kontinen proses abrasi dan sedimentasi aktif.
  2. Takikan dangkalah : adalah daerah peralihan dari dangkalan ke lereng kontinen, kedalamannya berkisar antara 10 – 500 m, reratanya 200 m, relatif umumnya kurang dari 20 m.
  3. Lereng kontinen : lanjutan dari dangkalan kontinen mempunyai lereng 3 - 6 %, proses pengendapan aktif.
  4. Tanjakan kontinen : daerah ini mempunyai lereng secara gradual menurun hingga mencapai basin lautan.
b.    Dasar Basin Lautan: Dasar Basin Lautan sering disebut dengan daratan abisal, daratan abisal mempunyai gradien yang sangat kecil 1 : 1000 hingga 1 : 10.000. pada dataran abisal umumnya tempat bermuara “canon” sehingga sering timbul bentukan yang menyerupai kipas. Meskipun sebagian besar topografinya datar, tetapi banyak juga bertopografi bergumuk (hummocky) yang diakibatkan oleh extrusi dan gunung api dasar laut.

c.    Igir dan Lembah Dasar Laut: Kenampakan yang dijumpai di dasar laut antara lain :

  1. Igir : Igir umumnya berlereng yang relatif terjal lebarnya dapat mencapai 1.500 – 2.000 km. Igir bawah laut dapat merupakan system rangkaian gunung api bawah laut. Pada sistem dan lembah memanjang (rift valley).
  2. Palung (trenches) : bagian laut yang terdalam seperti saluran, yang seakan – akan memisahkan dua benua, seperti di Lautan India (selatan Pulau Jawa) kedalamannya mencapai 7.700 m.
  3. Pulau Kontinen : yaitu masa dataran yang terpisah dengan benuanya (kontinennya).
  4. Atol (pulau terumbu karang).
  5. Seamount” dan “Guyot”.
  6. Jalur kepulauan (seperti di Indonesia).
Ket : Seamount adalah gunung api yang muncul dari dasa lautan, tetapi belum muncul ke permukaan laut, seamount berlereng curam, puncak runcing, ketinggian dapat mencapai 1.000 m, sedangkan “guyot” mempunyai puncak datar.

Bentang Lahan Pasir: Pada bentang lahan pasir (Coaltal Landscape) sebenarnya mencakup perairan laut yang disebut dengan pantai (shore). Pantai (shore) adalah suatu wilayah yang meluas dari titik terrendah pada saat surut, arah ke dataran hingga mencapai batas efektif dari gelombang. Garis pantai (shore line) itu berubah – ubah sesuai dengan kedudukan pada saat pasang surut, pengaruh gelombang dan arus laut.

Sifat Fisik Air Laut: Gelombang, arus, dan pasut adalah sifat fisik air laut yang bersifat dinamis. Gelombang, arus dan pasang surut yang terjadi pada suatu daerah di perairan laut telah berlangsung lama, sehingga organisme yang terdapat di daerah tersebut telah beradaptasi. Karakteristik gelombang, arus dan pasang surut dapat dicari di berbagai literature kelautan dan karakteristik fisik air laut yang bersifat internal misalnya penyinaran, suhu, salinitas, tenahan, CO2, O2, pH dan kedalaman.

Penyinaran: Intensitas sinar penting dalam kehidupan di perairan laut, ternyata intensitas sinar yang dapat masuk ke dalam air itu berbeda – beda. Sinar merah yang mencakup maksimum 1 % dari dari sinar dapat mencapai kedalaman 55 m, sinar kuning – hijau dan violet 1 % daya tembusnya 95 m dan sinar biru 1 % mencapai kedalam 150 m. Sinar untuk fotosintesis maksimum dapat mencapai 250 m di laut, di pantai yag airnya jernih dapat mencapai 50 m dan apabila keruh hanya beberapa sentimeter saja. Seperti yang telah diuraikan berdasarkan penyinaran sinar matahari perairan laut dibedakan menjadi : (1) eufotik, (2) disfotik dan (3) afotik. Di bawah kedalaman 2.500 meter sinar matahari sudah tidak mencukupi untuk proses biologis. Sinar matahari yang masuk ke dalam air tidak dapat menyebabkan kenaikan suhu, akibatnya akan menimbulkan arus konveksi. Arus konveksi yang terjadi akan berpengaruh terhadap kehidupan dari perairan laut. Seberapa besar pengaruh arus konveksi terhadap kehidupan laut.

Suhu Air Laut: Suhu air laut permukaan dengan di bawah permukaan menunjukkan perbedaan. Selisih suhu harian lebih kurang 0,3oC untuk lautan, sedangkan di pantai dapat mencapai 3oC. Perbedaan suhu air laut untuk berbagai lokasi itu berbeda – beda. Untuk daerah lintang tinggi perbedaan suhu tidak begitu besar. Misalnya di daerah lintang rendah di permukaan 25oC di dasar pada kedalaman 2.500 m dengan suhu 5oC. Perbedaan suhu selain dapat menyebabkan densitas akan mempengaruhi nutrisi yang dikandungnya, umumnya di permukaan itu terbatas sedangkan di bawah permukaan melimpah.

Salinitas: Salinitas secara keseluruhan hampir homogen (35%), kecuali pada daerah yang mendapat pasokan air tawar atau evaporasi yang kuat. Akibat dari salinitas air laut yang tinggi menyebabkan hewan (ikan) di air laut bersifat isotonic (lebih konstan), sedangkan ikan di air tawar hipotonik.

Tekanan Air: Tekanan hidrostatik menjadi factor pengontrol kehidupan di laut. Setiap turun 10 m tekanan bertambah 1 atmosfer. Di dasar laut tekanan dapat mencapai 1.000 atmosfer. Atas dasar variasi tekanan air maka kehidupan laut bervariasi menurut kedalamannya.

CO2

Karbon dioksida di air laut bervariasi, di dalam air dapat membentuk asam karbonat dan apabila bereaksi dengan Ca dapat membentuk batu gamping. Ketersediaan CO2 akan menentukan proses fotosintesis, apabila CO2 naik dapat menyebabakan kematian bagi binatang laut.

Nutrisi

Nutrisi seperti fosfat dan nitrit penting untuk pertumbuhan dan reproduksi bagi semua organisme di laut. Fosfat dapat membentuk adenosin tri fosfat yang penting untuk pertumbuhan.

Kehidupan di perairan laut atas dasar daya gerak dan habitatnya dapat dibedakan menjadi :

  1. Plankton: Plankton adalah organisme mikroskopik di perairan yang mengapung, berpindah-pindah terbawa arus. Kebanyakan plankton hidup di perairan dangkal, karena hidup hari fotosintesis. Plankton dapat dibedakan menjadi fitoplankton dan zooplankton.
  2. Fitoplankton: Contoh dari Fitoplankton adalah diatomea (SiO2) yang senang pada perairan dingin dan flagelata yang senang pada air hangat. Coccithopores memiliki kulit CaCO3, sargasum sejenis plankton yang hidup tanpa akar, melayang – layang di dalam air.
  3. Zooplankton: “Jelly Fish”, “Arrow Worm” copepod dapat hidup dalam berbagai kondisi salinitas, sinar, arus dan cadangan nutrisi. Zooplankton dapat dibedakan menjadi holoplankton (terus – menerus tenggelam) dan mesoplankton (kadang – kadang tenggelam)
  4. Benthos: Adalah organisme yang hidup di dasar laut. Atas dasar model kehidupanya dapat dibedakan menjadi sesil (diam, permanen), merayap (kepiting) dan membuang liang (kerang).
  5. Nekton: Adalah binatang yang dapat berenang (ika, hiu, dan mamalia0
  6. Tumbuhan Laut: Eel Grass”, ganggang biru-hijau, ganggang hijau, ganggang merah, ganggang coklat, diatemoa, dan flagelata.
  7. Binatang Laut: Variasi binatang laut lebih banyak, menurut bentuk, ukuran, morfologi dan kedalamannya. Contoh – contohnya : foraminifera, radioloria, porifera, “coelenterates”, moluska, branciopoda, “brryozoon”, cacing laut, antropoda, ikan laut, reptil, burung, mamalia, dan bacteria laut.



Wednesday, December 26, 2012

Indikator Kinerja Lingkungan

Jenis dan Indikator Penilaian Kinerja Lingkungan

Kinerja lingkungan adalah hasil dapat diukur dari sistem manajemen lingkungan, yang terkait dengan kontrol aspek-aspek lingkungannya. Pengkajian kinerja lingkungan didasarkan pada kebijakan lingkungan, sasaran lingkungan dan target lingkungan (ISO 14004, dari ISO 14001 oleh Sturm, 1998). Kinerja lingkungan kuantitatif adalah hasil dapat diukur dari sistem manajemen lingkungan yang terkait kontrol aspek lingkungan fisiknya. Kinerja lingkungan kualitatif adalah hasil dapat diukur dari hal-hal yang terkait dengan ukuran aset non fisik, seperti prosedur, proses inovasi, motivasi, dan semangat kerja yang dialami manusia pelaku kegiatan, dalam mewujudkan kebijakan lingkungan organisasi, sasaran dan targetnya. Indikator kinerja kualitatif bukan hanya mengukur motivasi kerja dan inovasi yang terjadi, namun juga mengukur iklim yang memungkinkan inovasi itu terjadi, iklim kerja yang membuat motivasi kerja karyawan meningkat, jadi faktor pendorongnya lebih ditekankan. Dasarnya adalah teori bahwa perasaan dan tindakan manusia pun adalah hasil atau respon terhadap apa yang terjadi disekitarnya (stimulus). (Covey, 1993).

Jenis ukuran indikator kinerja lingkungan secara umum terdiri dari 2 golongan yaitu (GEMI, 1998) :
  1. Indikator lagging yaitu ukuran kinerja end-process, mengukur output hasil proses seperti jumlah polutan dikeluarkan
  2. Indikator leading yaitu ukuran kinerja in-proses, Jenis indikator yang sudah banyak dikenal yaitu indikator lagging, seperti jumlah limbah yang dihasilkan, dll. Manfaat utama menggunakan indikator jenis ini adalah mudah digunakan dan mudah dimengerti. Kerugian utamanya adalah sesuai namanya yaitu indikator tertinggal (lag), mereka mencerminkan situasi dimana aksi korektif hanya dapat diambil setelah kejadian, dan bahkan setelah memakan biaya tertentu, apakah itu denda atau turunnya citra perusahaan akibat keluhan dari masyarakat. Indikator ini juga tidak mengidentifikasi akar penyebab defisiensi dan bagaimana kejadiannya dapat dicegah. Efek dari tindakan korektif tidak akan muncul hingga hasilnya tahun depan, sehingga ukuran kinerja akan terasa terlambat.
Jenis indikator kedua yaitu indikator leading atau indikator in-process, adalah yang mengukur implementasi prosedur yang dilakukan, atau mengukur faktor apa yang diharapkan membawa pada perbaikan kinerja lingkungan. Contohnya, daripada memakai jumlah denda, indikator leading-nya adalah jumlah audit pemenuhan lingkungan dan kesehatan dan keselamatan yang diadakan selama setahun. Manfaat utama jenis ukuran ini adalah aksi koreksi seringkali dapat diambil sebelum kejadian defisiensi muncul yang mengurangi kinerja lingkungan. Sayangnya, indikator leading seringkali sulit dihitung (beberapa bahkan cenderung kualitatif daripada kuantitatif), dan hasilnya tidak mendapat perhatian dari para pemegang saham (termasuk publik).

Terdapat banyak hal yang perlu dipertimbangkan ketika merancang, mengimplementasikan, mengevaluasi, dan memperbaiki program pengukuran kinerja lingkungan. Saran yang diberikan GEMI (1998) ketika memilih indikator kinerja lingkungan adalah :
  1. Satu ukuran tidak mewakili semua – pertimbangkan operasi perusahaan, organisasi, dan dampak lingkungan uniknya. Berangkat dari fakta bahwa setiap perusahaan mempunyai produk dan jasanya masing-masing, organisasi, struktur keuangan, hukum dan kebutuhan peraturannya sendiri-sendiri. Berkompromi dengan standar internasional seperti ISO 14001 mungkin penting bagi perusahaan dengan operasi global, namun kurang penting bagi perusahaan lokal. Sebagai tambahan, manajemen perusahaan, pemegang saham internal dan eksternal lain akan menentukan perangkat apa yang digunakan dan bagaimana kinerja diukur.
  2. Tentukan pemirsa dari metrik ukuran kinerja tersebut. Terdapat pemirsa internal (direksi, pemegang saham, karyawan) atau eksternal (investor, masyarakat, Pemerintah). Setiap kelompok konsumen lingkungan tertarik pada tipe data dan metrik kinerja yang berbeda. Masyarakat lokal sebagai contoh, terutama tertarik dengan pembuangan bahan kimia beracun dari pabrik yang berdekatan dengan lingkungan komunitasnya. Karyawan tertarik pada kecelakaan kerja dan kesehatan dan kekuatan komitmen manajemen pada program EHS. Sementara manajemen dan investor lebih tertarik pada biaya program EHS dan nilai yang ditambahkannya pada bisnis yang tercantum dalam data kinerja EHS. Agen Pemerintah memerlukan pengumpulan dan pelaporan tipe data tertentu seperti emisi udara, pembuangan ke air, dan pembuangan dan kebocoran substansi berbahaya. Banyak perusahaan memilih merespon pada bermacam pemirsa.
  3. Tentukan sasaran / tujuan indikator kinerja, apakah bertujuan memuaskan bermacam audiens, seperti NGO, Pemerintah, dll. Minat dari bermacam pemirsa konsumen tersebut biasanya digabungkan dalam kebijakan dan sasaran lingkungan, kesehatan, dan keselamatan perusahaan. Sasaran ini seringkali menyediakan kriteria dimana kinerja perusahaan diukur. Dalam banyak kasus prinsip-prinsip ini didasarkan pada prinsip yang dikembangkan oleh inisiatif bisnis sukarela, seperti Public Environmental Reporting Initiatives (PERI), ICC Business Charter for Sustainable Development, dan Coalition for Environmentally Responsible Economies (CERES).
  4. Tentukan bilamana ukuran kesehatan dan keselamatan dimasukkan dalam indikator kinerja lingkungan, karena tidak selalu dimasukkan.
  5. Pilih ukuran yang mendorong kinerja. Contohnya perusahaan yang ingin memperbaiki catatan pemenuhan dengan Pemerintah harus menggunakan metrik ukuran in-proses yang mengidentifikasi dan mengukur akar penyebab tidak memenuhi tersebut. Mengukur limbah B3 yang dihasilkan daripada mengurangi penggunaan material B3 akan membawa manajer dengan mudah mendaur ulang material tertentu daripada mensubstitusikan atau menghilangkannya dari proses produksi. Fokus pada jumlah kasus kecelakaan di pabrik dapat berakibat penurunan pelaporan dan kecelakaan yang lebih serius dikemudian hari. Memberi nilai atau mengindeks-kan fasilitas dapat menolong mengukur kemajuan dari tahun sebelumnya dan membawa perbaikan berkelanjutan.
  6. Pastikan bahwa program tersebut berkelanjutan. Dokumentasi adalah elemen kunci ISO 14001. Program harus mampu bertahan jika personil kunci meninggalkan perusahaan atau dipindahkan.
  7. Konsisten dari tahun ke tahun
  8. Pilih ukuran yang dimengerti dan cocok dengan operasi dan sistem informasi perusahaan. Adalah penting untuk memilih metrik ukuran yang dimengerti pada target pemirsa dan unit bisnis dan sesuai dengan operasi perusahaan. EPI dapat terasa sulit untuk diimplementasikan dan dikumpulkan dan karena itu tidak selalu berguna pada perusahaan dengan divisi dan operasi yang beragam. Di sisi lain akan sangat berguna pada perusahaan dalam satu tipe aktifitas. Bagi perusahaan internasional, metrik ukuran yang cukup jelas di satu lokasi pabrik mungkin tidak dimengerti di lokasi negara lain.
  9. Gunakan data yang telah juga dikumpulkan bagi penggunaan bisnis lain, bila memungkinkan. Pengumpulan data dan pelaporan kinerja lingkungan akan difasilitasi dan diminimalkan biayanya pada batas dimana sistem pengumpulan data yang ada dapat digunakan. Biaya program metrik lingkungan akan menjadi perhatian utama dari manajemen perusahaan terutama di perusahaan kecil. Data yang secara rutin dicari dan dilaporkan adalah data yang diperlukan oleh agen peraturan , seperti :Limbah berbahaya yang dihasilkan, Pengeluaran kimia beracun, Tumpahan minyak dan substansi berbahaya, Emisi udara dan pengeluaran limbah cair, Kecelakaan kerja dan kondisi kesehatan. Data lain yang dicari bagi kegunaan bisnis, namun juga berguna bagi metrik lingkungan termasuk :·  Penggunaan air ·  Penggunaan energi / unit produk ·  Jumlah temuan audit internal ·  Biaya remediasi lingkungan ·  Persen karyawan dilatih ·  Jumlah material didaur ulang, dan lainnya.
  10. Jelaskan harapan kinerja dan identifikasi siapa yang terlibat.
  11. Identifikasi proses pengumpulan data yang jelas –bilamana dan bagaimana data akan dikumpulkan dan dilaporkan.
  12. Normalkan data. Normalisasi data adalah teknik penting bagi menelusuri kinerja lingkungan. Mencoba faktor emisi, pengeluaran, dan konsumsi sumberdaya pada unit produksi menolong menjelaskan apakah tren lingkungan positif adalah hasil aktifitas pencegahan polusi atau hanya efek pengurangan manufaktur (penutupan pabrik atau pemindahan manufaktur kontrak).

Prosedur Penentuan Indikator Kinerja Lingkungan Secara Kuantitatif

Secara umum untuk menentukan indikator kinerja lingkungan kuantitatif dapat menggunakan metoda Evaluasi Kinerja Lingkungan (EPE) ISO 14031. Yang berisi antara lain pemilihan indikator kinerja kuantitatif terkait dengan konsumen yang kita tuju dari pelaporan kinerja lingkungan kita. Garis besar metoda menentukan indikator kinerja lingkungan sesuai kerangka EPE ISO 14031 langkah-langkahnya adalah :
  1. Mencari kriteria kinerja yang diinginkan pelanggan lingkungan / interested parties yang ingin kita tuju dalam pelaporan kinerja lingkungan kita. Pemahaman aspek organisasional lewat gambaran profil organisasi, kebijakan lingkungan, visi dan misi, sasaran, dan target kinerja yang diinginkan manajemen, serta kriteria pemilihan lainnya, lewat input dari manajemen, dapat sebagai dasar penentuan kriteria kinerja lingkungan dan indikator terukurnya.
  2. Memasukkan pertimbangan kriteria kinerja terutama yang terkait dengan aspek dan dampak lingkungan signifikan dalam pemetaan proses dan form peta proses Christopher (1993). Dapat dengan pendekatan metoda 6 langkah pemetaan proses EPA (1999)
  3. Menentukan jenis indikator kinerja berdasarkan kriteria kinerja terpilih sebelumnya.
  4. Mengadakan program manajemen lingkungan pengumpulan data indikator kinerja tersebut.
  5. Melaporkan sebagai bahan review manajemen dan melakukan aksi korektif.

Selain pertimbangan sasaran yang ingin dicapai, penentuan indikator kinerja dilakukan dengan memperhatikan hal-hal :
  1. Aspek non teknis. Pertimbangan selain yang tertulis seperti pernyataan kebijakan, visi dan misi lingkungan, sasaran dan target lingkungan, karena kadang terdapat kebijakan tak tertulis, perlu juga mengadakan konsultasi dengan pihak manajemen.
  2. Aspek teknis: sistem manajemen, pendukung untuk mendapat indikator kinerja, berupa ketersediaan data penunjang (seperti data penggunaan energi listrik, dst), kemudahan pengukuran (peralatan dan metoda), fisibilitas secara keuangan, dan aspek lingkungan signifikan secara ekonomis.
Metoda pendekatan untuk mendapatkan indikator kinerja secara umum telah digunakan Christopher (1993) dengan mengusulkan pendekatan 3 langkah pengukuran: peta, ukuran, dan motivasi. Upaya pengukuran indikator kinerja lingkungan operasional khususnya dicoba dilakukan dengan metoda 2 langkah dari 3 langkah Christopher (1993), ditambah analisa aspek dan dampak lingkungan signifikan. Yaitu :
  1. Peta, tahap ini memetakan proses dan menetapkan batas-batas kajian untuk hasil yang diproduksi
  2. Ukuran, tahap ini mengembangkan ukuran yang mendefinisikan kinerja produktifitas dan mutu sehingga sasaran dapat tercapai dan untuk menetapkan umpan balik pengendalian dan pengembangannya.
  3. Analisa aspek dan dampak lingkungan signifikan dengan menggunakan antara lain metoda 6 langkah pemetaan proses EPA (1999).

Prosedur Penentuan Indikator Kinerja Lingkungan Secara Kualitatif

Indikator kuantitatif tetap punya kelemahan antara lain tidak mampu menggambarkan proses yang sedang terjadi secara lengkap. Indikator yang sulit dijabarkan secara kuantitatif antara lain yang terkait dengan aspek intangible kualitatif, seperti persepsi karyawan, motivasi, iklim inovasi. Hal-hal tersebut lebih tepat diukur dengan pendekatan kualitatif. Sebenarnya Christopher telah menyinggungnya lewat pengukuran langkah ke 3 yaitu motivasi, namun untuk lebih memudahkan kita pisahkan dengan pengukuran kuantitatif di 2 langkah sebelumnya. Motivasi kita pisahkan karena lebih cenderung termasuk indikator kualitatif yang dapat diukur dalam langkah pengukuran proses dalam konteks Evaluasi Kinerja Lingkungan (EPE).

Beberapa definisi yang digunakan untuk menggunakan metoda ini adalah :
  • Mutu adalah kepuasan konsumen karena terpenuhi harapannya.
  • Konsumen adalah pemakai produk atau jasa yang dihasilkan. Konsumen dapat berupa konsumen internal dan eksternal.
  • Produktifitas adalah efisiensi penggunaan sumber daya, yang diukur sebagai output dalam hubungannya dengan input sumber daya antara lain orang/jam, modal, material, energi.
  • Input adalah sumber daya (orang/jam modal, material, energi) yang digunakan dalam proses produksi untuk menghasilkan produk atau jasa.
  • Output adalah produk atau jasa yang memenuhi persyaratan mutu, dihasilkan melalui proses yang menggunakan sumberdaya dan dikirimkan kepada konsumen.
Indikator kualitatif adalah ukuran yang didasarkan pada penilaian semantik, pandangan, persepsi seseorang berdasarkan pengamatan dan penilaiannya terhadap sesuatu. Indikator ini tetap penting karena menjadi bagian proses kegiatan yang berperan mengukur iklim dan pendorong motivasi karyawan, untuk mewujudkan hasil kinerja yang diharapkan.

Contoh pengukuran kualitatif adalah penilaian terhadap sistem manajemen lingkungan yang berlaku seperti cakupan prosedur, persepsi karyawan, kepuasan pelanggan, motivasi kerja, intensitas komunikasi yang terjadi dengan pelanggan / elemen organisasi lain, sistem penghargaan, proses validitas data lingkungan, dst. Indikator-indikator tersebut agar optimal, harus memiliki arah mewujudkan sasaran lingkungan yang ingin dicapai, berupa visi dan misi kebijakan yang jelas, kondisi yang ingin dicapai seperti jaminan kelangsungan bisnis, kualitas proses produksi sesuai keinginan pelanggan, dan lainnya. Dalam hal ini dibantu dengan konsep-konsep seperti TQEM dan Sustainable Development.

Indikator kualitatif dapat diukur dengan melakukan aktifitas gap analysis atau audit sistem manajemen. Untuk dapat melakukannya diperlukan standar tertentu yang telah memiliki kondisi tahapan menuju sasaran yang diharapkan, seperti halnya TQEM CGLI. Cara lain adalah dengan membebaskan organisasi mencari jalannya sendiri menuju kinerja yang telah ditetapkan, namun dengan menggunakan rambu-rambu tertentu pada tahapan tertentu. Contohnya seperti pada Green Zia dan MBQA.



Friday, December 21, 2012

Ruang Terbuka Hijau

Ruang Terbuka Hijau dan Peningkatan Kualitas Lingkungan

Sumber daya alam dan lingkungan hidup merupakan sumber yang penting bagi kehidupan umat manusia dan makhluk hidup lainnya. Sumber daya alam menyediakan sesuatu yang diperoleh dari lingkungan fisik untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia, sedangkan lingkungan merupakan tempat dalam arti luas bagi manusia dalam melakukan aktifitasnya. Untuk itu, pengelolaan sumber daya alam seharusnya mengacu kepada aspek konservasi dan pelestarian lingkungan. Eksploitasi sumber daya alam yang hanya berorientasi ekonomi hanya membawa efek positif secara ekonomi tetapi menimbulkan efek negatif bagi kelangsungan kehidupan umat manusia. Oleh karena itu pembangunan tidak hanya memperhatikan aspek ekonomi tetapi juga memperhatikan aspek etika dan sosial yang berkaitan dengan kelestarian serta kemampuan dan daya dukung sumber daya alam. Pembangunan sumber daya alam dan lingkungan hidup menjadi acuan bagi kegiatan berbagai sektor pembangunan agar tercipta keseimbangan dan kelestarian fungsi sumber daya alam dan lingkungan hidup sehingga keberlanjutan pembangunan tetap terjamin.

Pemanfaatan sumber daya alam seharusnya memberi kesempatan dan ruang bagi peranserta masyarakat dalam pemeliharaan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Peranan pemerintah daerah sangat diperlukan dalam perumusan kebijakan pengelolaan sumber daya alam terutama dalam rangka perlindungan dari bencana ekologis. Sejalan dengan otonomi daerah, kontrol masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup merupakan hal yang penting. Dengan demikian hak dan kewajiban masyarakat untuk memanfaatkan dan memelihara keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan harus dapat dioptimalkan. Kemiskinan akibat krisis ekonomi juga perlu mendapat perhatian karena dapat berpotensi mempercepat terjadinya kerusakan sumber daya alam, termasuk kerusakan hutan lindung, pencemaran udara, hilangnya keanekaragaman hayati, kerusakan konservasi alam, dan sebagainya.

Meningkatnya intensitas kegiatan penduduk dan industri perlu dikendalikan untuk mengurangi kadar kerusakan lingkungan di banyak tempat yang antara lain berupa pencemaran industri, pembuangan limbah yang tidak memenuhi persyaratan teknis dan kesehatan, penggunaan bahan bakar yang tidak aman bagi lingkungan, kegiatan pertanian, penangkapan ikan, dan eksploitasi hutan lindung yang mengabaikan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Dengan memperhatikan permasalahan dan kondisi sumber daya alam dan lingkungan hidup dewasa ini, maka kebijakan di bidang sumber daya alam dan lingkungan hidup ditujukan pada upaya: (1) mengelola sumber daya alam, baik yang dapat diperbaharui maupun yang tidak dapat diperbaharui melalui penerapan teknologi ramah lingkungan dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampungnya, (2) memberdayakan masyarakat dan kekuatan ekonomi dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, (3) memelihara kawasan konservasi yang sudah ada dan menetapkan kawasan konservasi baru di wilayah tertentu, dan (4) mengikutsertakan masyarakat dalam rangka menanggulangi permasalahan lingkungan global. Sasaran yang ingin dicapai adalah terwujudnya pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. kepentingan ekonomi dan budaya masyarakat, serta penataan ruang. ArahPembangunan wilayah di bidang sumber daya alam dan lingkungan hidup pada dasarnya merupakan upaya untuk mendayagunakan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan memperhatikan pelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup, pembangunan yang berkelanjutan, kebijakan yang ditetapkan disesuaikan dengan fungsi masing-masing.

Program Pengembangan Sumber Daya Pertambangan dan Energi
Program ini bertujuan untuk meningkatkan pengembangan sumber daya pertambangan dan energi secara berkelanjutan. Sasaran yang ingin dicapai melalui program ini adalah meningkatnya pemanfaatan hasil tambang dan energi secara berkelanjutan guna mendukung kesejahteraan masyarakat. Kegiatan pokok yang dilakukan adalah: (1) melakukan inventarisasi dan evaluasi potensi sumber daya pertambangan dan energi, serta (2) melakukan pengawasan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan pertambangan dan energi serta penyusunan kebijakan dan peraturan baru dalam pengelolaan sumber daya pertambangan dan energi.

Program Pengembangan Sumber Air Tanah
Tujuan program ini adalah meningkatkan kesadaran dunia usaha dan masyarakat dalam memanfaatkan air tanah untuk memenuhi kebutuhannya, dengan tetap menjaga dan mempertahankan ketersediannya serta tetap menjaga agar tidak terjadi pencemaran lingkungan akibat penggunaan air tanah yang berlebihan.

Sasaran yang ingin dicapai dalam program ini adalah terkendalinya pemanfaatan air tanah oleh dunia usaha dan masyarakat serta meningkatnya permukaan air tanah dangkal dan cadangan sumber air tanah. Kegiatan pokok yang dilakukan adalah: (1) melakukan sosialisasi kepada dunia usaha dan masyarakat tentang pencemaran lingkungan akibat penggunaan air tanah yang berlebihan, serta (2) meningkatkan kepedulian dan kesadaran masyarakat dan dunia usaha dalam meningkatkan cadangan sumber air tanah melalui penambahan sumur resapan air hujan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhannya.

Program Peningkatan Kualitas Lingkungan
Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup dalam upaya mencegah pengrusakan dan atau pencemaran lingkungan seperti sungai, kali dan laut, dan pemulihan kualitas lingkungan yang rusak akibat pemanfaatan sumber daya alam yang berlebihan, kegiatan industri dan transportasi.

Sasaran program ini adalah tercapainya kualitas lingkungan hidup yang bersih dan sehat sesuai baku mutu lingkungan yang ditetapkan. Kegiatan pokok yang dilakukan adalah: (1) menerapkan perijinan dan meningkatkan pengawasan industri pengolahan limbah cair, (2) melakukan pengawasan dan pengendalian sumber-sumber pencemaran kali, laut dan udara bersih, (3) meningkatkan kepedulian dan kesadaran industriawan dan masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga sungai, laut dan udara dari penggunaan bahan kimia yang merusak, (4) mengembangkan teknologi yang berwawasan lingkungan khususnya teknologi tradisional yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air, sumber daya hutan dan industri yang ramah lingkungan, (5) meningkatkan kondisi dan kualitas sungai, (5) meningkatkan sistem penanggulangan dan pengawasan terhadap pembajakan sumber daya hayati, (6) melakukan pencegahan polusi udara melalui uji emisi, dalam upaya ini termasuk pengendalian dampak polusi udara pada kesehatan masyarakat, dan (7) menerapkan sanksi hukum terhadap dunia usaha dan masyarakat yang dengan sengaja melakukan pencemaran lingkungan.

Program Peningkatan Pengendalian Dampak Lingkungan
memberi dukungan terhadap kegiatan industri dan transportasi yang ramahTujuan program ini adalah meningkatkan pengendalian dampak lingkungan akibat pencemaran lingkungan, pemulihan kualitas lingkungan yang rusak akibat pemanfaatan sumber daya alam yang berlebihan, serta lingkungan.

Sasaran program ini adalah meningkatnya pengendalian dampak lingkungan serta kualitas lingkungan seiring dengan meningkatnya kualitas kelestarian alam dan jumlah warga kota yang memiliki kepedulian dan kesadaran akan pentingnya lingkungan hidup. Kegiatan pokok yang dilakukan adalah: (1) melakukan pertimbangan lingkungan yang lebih bijaksana dalam memberikan ijin lokasi bagi industri, (2) mempertimbangkan faktor lingkungan dalam pengembangan teknologi pengelolaan limbah rumah tangga, industri dan transportasi, (3) menetapkan indeks dan baku mutu lingkungan, (4) meningkatkan perlindungan terhadap teknologi tradisional yang ramah lingkungan, (5) memantau kualitas lingkungan secara terpadu dan terus menerus, (6) meningkatkan kesadaran warga kota akan hidup bersih dan sehat, (7) memanfaatkan kearifan tradisional dalam pemeliharaan lingkungan hidup, dan (8) meningkatkan kepatuhan dunia usaha dan masyarakat terhadap peraturan dan tata nilai masyarakat yang berwawasan lingkungan. Dalam upaya ini termasuk penataan ruang, pemukiman dan industri yang konsisten dengan pengendalian pencemaran lingkungan.

Program Penataan dan Pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Program ini bertujuan untuk menyempurnakan penataan dan pengembangan ruang terbuka hijau sebagai upaya meningkatkan penghijauan kota. Sasaran program ini adalah meningkatnya kualitas dan kuantitas ruang terbuka hijau serta menjadikan kota yang teduh, nyaman, sehat dan indah.

Kegiatan pokok yang dilakukan adalah: (1) mengembangkan dan memanfaatkan ruang terbuka hijau secara konsisten dan efektif sesuai dengan fungsinya serta dinamika kehidupan masyarakat, (2) meningkatkan kepedulian dan kesadaran masyarakat akan pentingnya taman sebagai upaya terciptanya ruang terbuka hijau, serta (3) meningkatkan pemeliharaan taman kota secara tepat dan baik termasuk pemeliharaan hasil pembangunan pertamanan.

Program Penyerasian dan Keindahan Lingkungan
Program ini bertujuan untuk menjadikan kota yang indah, bersih, hijau dan nyaman serta meningkatkan sarana dan prasarana yang mendukung keindahan kota. Sasaran yang ingin dicapai adalah meningkatnya sarana keindahan kota untuk menwujudkan kota yang nyaman dan bersih.

Kegiatan yang dilakukan adalah : (1) meningkatkan kualitas estetika sarana keindahan kota, (2) menyusun rencana lingkup kegiatan sarana keindahan kota, (3) menyusun rencana persebaran, penempatan, dimensi sarana keindahan kota, serta (4) menata dengan baik penempatan ornamen dan street furniture, termasuk media luar ruang.

Program Pengembangan Sarana dan Prasarana Kebersihan
Tujuan dari program ini adalah mewujudkan kota yang bersih dengan dukungan sarana dan prasarana kebersihan yang tersedia. Sasaran program ini adalah meningkatnya sarana dan prasarana kebersihan yang memadai dalam pengelolaan kebersihan kota serta meningkatnya kesadaran dan peranserta masyarakat terhadap kebersihan kota. Kegiatan pokok yang dilakukan adalah: (1) meningkatkan sarana dan prasarana kebersihan kota, dan (2) memperkuat aspek legal dalam pengelolaan sampah, dan (3) membudayakan hidup bersih.

Program Peningkatan Pelayanan Kebersihan
Tujuan dari program ini adalah meningkatkan pelayanan kebersihan oleh aparat dalam rangka mewujudkan kota yang bersih. Sasaran program ini adalah meningkatnya kemampuan aparat dalam pengelolaan kebersihan kota serta meningkatnya kesadaran dan peranserta masyarakat terhadap kebersihan kota.

Kegiatan pokok yang dilakukan adalah: (1) meningkatkan peranserta masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan kebersihan, (2) mengolah sampah dengan teknologi yang ramah lingkungan, (3) meningkatkan penanganan sampah pada sungai, situ dan danau, (4) memperkuat aspek legal dalam pengelolaan sampah, termasuk peningkatan ketersediaan perangkat hukum dan penegakan hukum secara konsisten dan terus menerus.



Psikologi Lingkungan

Hubungan Perilaku, Fisik, dan Lingkungan 
 
Sejak jaman Vitruvius tujuan arsitektur telah dinyatakan dalam pengertian kemantapan, kemanfaatan dan keindahan. Bahasa mutakhirnya adalah teknologi, fungsi dan estetika. Arsitektur merupakan disiplin yang sintetis dan senantiasa mencakup ketiga hal diatas dalam setiap rancangannya. Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan yang makin kompleks maka perilaku manusia ( human behaviour ) semakin diperhitungkan dalam proses perancangan yang sering disebut sebagai pengkajian lingkungan perilaku dalam arsitektur. Bahasan ini mencakup berbagai hal tentang Lingkungan , Proses Lingkungan, Perilaku, Setting Fisik, Ilmu Psikologi Lingkungan (dalam pencarian dan pencapaiannya). Landasan keilmiahan penelitiannya didasarkan pada fenomena, psikologi dan sosial (dengan sedikit keraguan tentang keabsahan metode penelitian kualitatif yang dilakukannya). Namun hal ini dapat ditanggulangi dengan perkembangan teknik penelitian ‘Naturalistic Inquiry’1 untuk ilmu non-eksak yang tak kurang derajat ilmiahnya dibanding metoda penelitian eksakta/engineering. Beberapa bagian menyoroti secara khusus tentang beberapa asumsi dasar berkait dengan hubungan perilaku manusia dengan setting fisiknya secara timbal balik dan perilaku yang dapat dicermati sebagai acuan perancangan setting fisik baik secara konsep maupun fisik keruangan.

Ilmu Psikologi Lingkungan, (pencarian dan pencapaian)

Psikologi lingkungan adalah lahan baru dalam rangkaian pengetahuan yang lahir karena kebutuhan sosial. Hal itu sekarang merupakan bagian dari struktur teorikal yang setara dalam kaidah teorikal yang lain. Kajian psikologi sosial bisa dinyatakan dengan menunjuk pada adanya kejadian atau studi fenomena ( fenomenologi ) seperti yang dikembangkan oleh pemikir Jerman.

Fenomenologi menekankan perlunya pemahaman yang simpatik didasarkan atas penjelasan yang holistik. Pemahaman ini tidak menyerankan pemahaman suatu fenomena secara parsial, dengan memecah belah kompleksitas fenomena menjadi hubungan antara beberapa variabel yang sedehana melainkan secara serentak dan menyeluruh. (Klasen,Winand; Architecture and Philosophy. University of San Carlos Cebu City,Phillipines.1980)

Perhatian utama tentang Human Behaviour adalah pada hubungan antar manusia terhadap lingkungan fisik yang dibuat oleh manusia sendiri. Dalam abad terakhir ini manusia telah banyak merubah wajah bumi dan alam bebas dimana dia berada. Namun dalam dinamika perubahan tersebut (yaitu kemenangan manusia menaklukkan lingkungan fisik menggunakan teknologi modern) manusia lantas melupakan perusakan terhadap dirinya sendiri misalnya berupa populasi yang terlalu padat, polusi air dan udara, urban deterioration, pengurasan sumber daya alam, dan masalah lingkungan lain yang mendasar. Dorongan yang timbul akibat keinginan untuk memecahkan masalah (lingkungan) tersebut kemudian menumbuhkan apa yang disebut ilmu psikologi lingkungan.

Sebagai dasar pemikiran adalah ilmu psikologi untuk menyatakan dan mengkonsepkan lingkungan manusia. Apa yang didapat kemudian bahwa psikologi modern hanya menawarkan sedikit petunjuk. Namun setidaknya hal tersebut memberikan sumbangan yang cukup berarti yaitu adanya kemantapan hubungan antara perilaku individu dan lingkungan alam bebas.

Posisi obyektifitas ilmu psikologi lingkungan adalah lebih empirikal dibanding teorikal. Karenanya dapat dikatakan bahwa ilmu ini tetap berada pada periphery masalah tentang bagaimana mendefinisikan lingkungan ( meskipun definisi itupun tidak secara langsung dapat menjadi pegangan.) Terdapat dua pendekatan yaitu satu yang menyatakan bahwa lingkungan dalam kemurnian fisik ( kaidah obyektifnya), dan pendekatan lainnya – dalam orientasi phenomenology – yang secara esensial menyatakan kesamaan dari lingkungan fisik/signifikansinya. Masing-masing mengabaikan tujuan dasar untuk mendefinisikan arti lingkungan dalam kerangka pendekatan tersebut. Tapi jika kedua pendekatan tersebut dapat menyatakan definisi, maka kesulitan mendasar akan muncul karena masing-masing pendekatan melihat suatu tingkatan parameter yang signifikan yang dinyatakan oleh satu dan lainnya. Pendekatan obyektif untuk lingkungan merupakan akar dari percobaan psikofisik dan Watsonian Behaviourism, yang membagi lingkungan fisik menjadi dorongan discrete quantifiable yang merupakan fungsi hubungan yang khas terhadap pengalaman dan perilaku. Pendekatan ini secara esensial digunakan untuk memantapkan dimensi dan kebebasan psikologi manusia seperti melihat/mengamati, berpikir, belajar, dan merasakan. Hal itu banyak mengajarkan kita tentang beberapa hal yang mendasar tentang fungsi tersebut namun tidak berarti terlalu banyak untuk dimengerti sebagai hasil integrasi manusia dalam bertingkah. Perilaku sendiri punya maksud tertentu dalam suatu setting sosial yang kompleks.

Pertanyaan untuk mempolakan dimensi dasar dalam lingkungan fisik, seperti cahaya dan suara, sebagai sumber dan perilaku belum terlalu serius diperhitungkan. Dan yang lebih penting adalah signifikansi makna, pengertian, dan proses kognitif sebagai level lain yang berpengaruh terhadap perilaku (sebagai yang sangat penting dalam pendekatan phenomenological) sampai kini belum terdefinisikan. Pendekatan phenomenological untuk lingkungan adalah merupakan pendekatan yang tidak hanya melihat hal itu berlangsung begitu saja namun lebih kepada ‘bagaimana mengalaminya’ seperti yang pertama kali dikatakan oleh Kofka dalam “Lingkungan perilaku” (1935) dan terakhir dikembangkan oleh Lewin’s dalam teori tentang ruang hidup (1936).

Perilaku tumbuh tidak dari obyektif karena dorongan dunia “sana” namun dari kegiatan dunia yang bertransformasi dalam “inner world” atau lingkungan fisik oleh kepaduan pengetahuan organisme. Secara psikologikal dan sosial hal ini berkait erat dan merupakan sesuatu yang penting dalam pembentukan dan pengalaman suasana ‘space’ yang terjadi dalam arsitektur ( Crowe ,Norman ; Nature and The Idea of Man- Made World .The MIT Press. Cambridge.England 1995 ) Beberapa asumsi menjelaskan beberapa pendekatan yang membahas kedudukan pengetahuan pisikologi lingkungan dalam hubungannya dengan ruang. Teori lainnya banyak mendukung formula ini adalah Murray 1938, Murphy 1947, Barker 1963, Kretch &Crutch 1948 dan lainnya.

Suatu pengertian lingkungan psikologis harus berkembang dengan sendirinya paling tidak studi tentang fenomena lingkungan yang terus berlangsung, berproses dengan cara pengamatan, pemikiran dan kreasi manusia . Dan lebih teliti lagi berupa simulasi yang dijalankan dalam suatu lingkungan fisik yang mampu meliput

keseluruhan proses tersebut. Sebenarnya, tujuan penting dalam kegiatan untuk mengkonsepkan lingkungan manusia haruslah memasukkan hubungan antara dunia fisik personal dan dunia yang dibentuknya yaitu yang bermula dari dirinya serta hubungan antara perilaku dan pengalaman. Berbicara untuk mengolah perilaku manusia dengan merubah lingkungan fisik tidak hanya berasal dari asumsi bahwa ada hubungan antar dua keberadaan namun lebih kepada bermulanya suatu hubungan antara kesetabilan dan keteraturan tanggapan manusia terhadap lingkungan fisiknya.

Fokus utama psikologi lingkungan adalah ‘hubungan manusia dengan lingkungannya’ namun ini terkadang malah bisa menjadi dikotomi (punya arti mendua) antara personal di satu sisi dan lingkungan disisi lainnya. Secara kebedaan/dikotomi ini bisa diabaikan karena hal itu hanya merupakan sebagian dari keseluruhan hubungan lingkungan dengan manusia sebagai suatu komponen. Ini berarti juga manusia tidak bisa eksis/ada kecuali punya hubungan dengan komponen lainnya yang membentuk situasi lingkungan.

Karakteristik Pendekatan Psikologi Lingkungan

Pendekatan psikologi lingkungan sebagaimana yang disampaikan oleh Holahan (1982) mempunyai karakteristik antara lain :

1. Adaptational Focus, Fokus penekanan pendekatan ini pada proses adaptasi manusia terhadap kebutuhan yang demikian kompleks terhadap suatu lingkungan fisik. Tiga aspek penting dalam adaptational Focus ini adalah :

  • Bahwa adaptational focus adalah proses psikologi yang yanag menjadi perantara dari pengaruh lingkungan / setting fisik terhadap kegiatan manusia
  • Bahwa adaptational focus merupakan pandangan yang holistik terhadap lingkungan fisik dalam hubungannya dengan perilaku, lingkungan, pengalaman dan kegiatan manusia. Lingkungan fisik sebagai suatu setting bagi perilaku manusia , bukan hanya sebagai stimula tunggal.
  • Bahwa adaptational focus melibatkan peranan aktif manusia dengan lingkungannya. Manusia aktif mencari cara positif dan adaptif untuk mengatasi tantangan lingkungannya (adaptational model)

2. Pendekatan Psikologi Lingkungan ini adalah lebih berupa problem soving dalam pembentukan paradigma baru yang berkaitan dengan interdisiplin keilmuan.  Dalam hal ini ilmuwan psikologi lingkungan harus terus melanjutkan usahanya untuk melakukan uji coba selanjutnya dan lebih mensistematiskan asumsi “terjadi dengan sendirinya” terutama dengan perhatian terhadap wilayah permasalahan yang relatif tidak terjangkau oleh riset yang sistematis. Salah satu yang bisa diusulkan adalah teknik observasi partisipatif.

Observasi Partisipatif

Observasi partisipatif merupakan teknik yang sering digunakan dalam berbagai kajian ilmu termasuk psikologi lingkungan. Perkembangan bidang kajian arsitektur lingkungan dan perilaku juga banyak dilakukan dengan menggunakan teknik ini dengan beberapa modifikasi. Prinsip dasar yang digunakan adalah meniadakan ‘dinding batas’ serta menghilangkan jarak anata obyek yang diamati dengan subyek (pengamat). Artinya pengamat bisa berbaur dengan lebih intens terhadap obyek yang diamatinya. Observasi partisipatif didefinikan sebagai suatu proses dimana observer berada dalam situasi langsung dengan yang diamatinya dan dengan peran serta dalam kegiatan sehari-hari observer mengumpulkan data. Teknik ini sudah lama dilakukan oleh pengamat antropologi dalam kegiatan ilmiahnya. Dengan demikian keilmiah-an pengamatan psikologi sosial ini dapat mengeliminir pendapat “ terjadi dengan sendirinya”.

Pengaruh Lingkungan Fisik pada Perilaku

Bagaimana lingkungan fisik berpengaruh terhadap lingkungan secara timbal balik dijelaskan oleh Gibson (1966) sebagai berikut :


Perilaku manusia dalam hubungannya terhadap suatu setting fisik berlangsung dan konsisten sesuai waktu dan situasi. Karenanya pola perilaku yang khas untuk setting fisik tersebut dapat diidentifikasikan. Tentu saja apa yang dibahas tidak lantas menjadi demikian sederhana bahwa manusia semuanya berperilaku ajeg dalam suatu tempat dan waktu tertentu. Tapi umumnya frekuensi kegiatan yang terjadi pada suatu setting baik tunggal ataupun berkelompok dengan setting lain menunjukkan suatu yang konstan/tetap sepanjang waktu. Ini menunjukkan bahwa tidak hanya karakter dan pola tetap perilaku yang dapat dideteksi dalam hubungannya dengan suatu setting tapi juga kemungkinan yang muncul seperti pola tanggapan perilaku yang kadang dapat berubah menjadi sebaliknya.

Apa yang ditunjukkan oleh peta perilaku tidak hanya tentang bagaimana kegiatan makan, tidur, berinteraksi, ngobrol dan lainnya dalam situasi, tempat dan waktu yang beragam tapi juga menunjukkan bahwa pola penggunaan ruang tidak diperdulikan oleh pasien yang terlibat dengan kata lain bahwa bila kondisi lainnya

sama, maka pola penggunaan (fungsi) setting fisik tertentu tidak diperdulikan oleh pemakai yang terlibat. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa data yang menjadi acuan untuk pembentukan pendapat ini dinyatakan hanya sebagai “kebenaran yang terjadi dengan sendirinya” dan itu bukan berupa asumsi kestabilan perilaku manusia pada umumnya tapi itu untuk menunjukkan kesamaan dalam hubungan dengan sebagian lingkungan fisik sebagai aspek nyata eksistensi manusia.

Aspek lain yang sebanding/setara adalah pendapat bahwa kesamaan dan keteraturan pikiran dan perilaku manusia dalam hubungannya dengan ruang fisik yang terjadi dengan sendirinya adalah merupakan implikasi bahwa sifat alamiah dari kesamaan juga terjadi dengan sendirinya. Dari sumber yang didapat pada  perilaku tidak dimaksudkan bahwa asumsi itu hanya sebagian benar, tapi yang lebih penting adalah keyakinan bahwa hal tersebut menyederhanakan pengertian hubungan antara perilaku manusia dan setting fisiknya. Kita dapat menyaksikan bahwa kamar tidur itu secara tetap digunakan untuk bersosial dan makan selain hanya untuk tidur. Ruang makan tidak hanya untuk makan tapi juga untuk membentuk pola berinteraksi sosial.

Proses Psikologi Manusia dalam Beradaptasi

Dari riset menunjukkan bagaimana dan untuk apa tujuan individu tersebut menggunakan ruang. Dan ini tidak merefleksikan secara langsung mengenai apa fungsi ruang itu. Hal itu lebih menunjukkan bahwa fungsi ruang / tergantung dari desain fisik dan label penamaannya saja. Ruang adalah sistem lingkungan binaan yang paling kecil. Dalam banyak kasus fungsi ruang ditentukan oleh fungsi dari sistem yang lebih besar. Fungsi ini menjadi jelas karena sebagian besar fungsi ini sesuai dengan kegiatan yang teratur berlanjut di ruangan tersebut ( misalnya ruang seminar, kelas dsb). Pada kasus lain fungsi ruang menjadi tidak jelas karena beragamnya variasi perilaku yang berlangsung di dalamnya (misal ruang keluarga dalam suatu rumah). Berarti ada dua jenis ruang yang berpengaruh terhadap perilaku . Pertama, ruang yang dirancanag untuk suatu perilaku khusus kedua ruang yang diperuntukkan bagi kegiatan yang lebih fleksible.Kedua, Kesamaan dan keteraturan bukan hanya salah satu karakteristik dari prilaku manusia dalam hubungannya dengan setting fisik.. Jika seseorang meluangkan waktu dari suatu ruangan kemudian berpindah ke ruangan lain dalam suatu waktu tertentu itu adalah karena adanya perbedaan kegiatan dan keteraturan kegiatan manusia. Peta perilaku kegiatan harian yang diamati belum juga dapat menjelaskan perbedaan apa yang terjadi pada masing-masing dan antar ruang. Ruang santai digunakan juga untuk makan , main game, ngobrol, membaca, interaksi sosial dan lain kegiatan. Dan untuk setiap perilaku selalu terjadi keajegan. Jika area tersebut diamati dalam waktu yang pendek , katakanlah lima atau sepuluh menit maka perilaku kelihatannya tidak banyak berubah. Ketika durasi suatu kegiatan dimasukkan dalam peta perilaku , dapat dikatakan bahwa secara umum kegiatan berlangsung tidak terlalu lama. Bahkan ketika kegiatannya terprogram, bagaimanapun perubahan akan terjadi juga. Misalnya ada dua orang yang terlibat percakapan mungkin lalu didatangi oleh orang ketiga , atau mungkin mencari sisi lain dari ruangan itu atau sejenak diam setelah melakukan percakapan itu. Kegiatan membaca di ruang santai mungkin berpindah ke ruang tidur untuk menghindari kebisingan.

Kaleidoskop perilaku manusia tentu saja tidak terbatas pada setting tertentu. Itu dapat ditemukan pada setiap setting fisik yang ada interaksi sosialnya. Perilaku manusia dalam hubungannya dengan setting fisik berbeda antar kejadian dan beragam. Perbedaan dan kelangsungan perilakunya tidak terbatas . Meskipun pelaku kegiatan bebas memilih setting fisik namun mereka tetap merasakan adanya batasan / limit. Desain ruangan punya batasan pilihan untuk perilaku yang terjadi di dalamnya. Sebagai contoh bila ada ketentuan untuk tidak boleh tidur di sembarang tempat dan harus di tempat tidur. Lantas seseorang malah memutuskan untuk tidur dilantai saja, berarti ia melawan peraturan / batasan yang mengharuskannya untuk tidur di tempat tidur. Bagaimanapun batasan ini ada meski punya potensi untuk dilanggar.

Kemampuan beradapatasi dan Fleksibilitas

An adaptable layout is one that affords different times standing patterns of behaviour at different times without requiring physical changes. Flexible layout are those in which the structure is easy to change to accommodate different needs. This is more than is generally implied by semifixed feature space… ( Jon Lang (1997) ; Creating Architectural Theory , The role of the behavioral sciences in environmental design )

Dari ungkapan tentang adaptasi dan fleksibilitas diatas dapat digunakan untuk lebih memperjelas kemungkinan perancangan setting dengan perhatian pada sifat adaptif manusia atau ruang yang diolah untuk mencapai tatanan yang sesuai dengan perilaku manusia ( supaya lebih gampang diadaptasi ) Mungkin karena terlalu bernilainya asumsi itu maka sedikit terlupa untuk memberi peringatan terhadap riset lingkungan yang gagal dalam mengenali kerumitan studi fenomena. Kebanyakan asumsi itu menunjukkan kebutuhan riset dengan maksud untuk mengesampingkan paradigma ‘sebab – akibat’ yang relatif sederhana yang menjadi tipe riset ilmiah lingkungan . Holahan (1982) menyatakan bahwa terjadinya proses psikologi manusia yang berhubungan dalan rangka mengatasi atau beradaptasi dengan lingkungan fisik dipengaruhi tiga hal yaitu :

  1. Environmental Perception, yaitu proses memahami linkungan fisik melalui input indrawi dari stimuli yang baru saja hadir atau terjadi
  2. Envorinmental Cognition, yaitu proses menyimpan , mengorganisasikan, mengkonstruksi dan memanggil kembali imaji, ciri-ciri, atau kondisi lingkungan yang sudah ada / terjadi beberapa saat yang lalu.
  3. Environmental Attitudes, yaitu rasa suka atau tidak suka terhadap sifat atau ciri , kondisi lingkungan fisiknya.

Hubungan Perilaku dengan Setting Fisik


Setting fisik yang dinyatakan dan dibentuk dengan pembatas bukan merupakan sistem tertutup ; batas itu tidak tetap terhadap ruang dan waktu. Hal ini sangat jelas diungkapkan oleh Norman Crowe dalam kajian ‘Natural Source for the Geometry of Architecture’ bahwa batas ( yang menggunakan geometri ) adalah berasal dari proses penataan/olahan material dan hasilnya dipengaruhi oleh Human Perseption. Human perseption inilah yang merupakan sesuatu yang tidak bisa di batasi.( Norman Crowe (1995) ;Nature and The Idea of Man-Made World .The MIT Press. Cambridge.England )

Dalam suatu setting fisik, perilaku individu mempunyai karakter perubahan yang menerus / ajeg disamping berlaku umum dan stabil/tetap. Setting fisik adalah subyek yang bersistem terbuka untuk ruang diluar dan dibatasi waktu. Peralatan yang berada dalam suatu ruang semuanya berfungsi tidak hanya dilihat dalam fungsi dekorasinya tapi mempertimbangkan juga sejumlah orang yang akan menggunakannya. Suatu ruang dengan enam penghuni didalamnya secara fisik tidak dapat disamakan dengan ruang yang sama namun berisi dua orang didalamnya. Bahkan saat penghuninya tetap, struktur yang kelihatan akan berbeda dalam menanggapi perilakunya.

Jika setting fisik adalah suatu sistem terbuka yang ditandai dengan sesuatu yang simultan dalam perubahan dan tetap maka organisasinya menjadi dinamis dan saling ketergantungan antar ruang lain dalam suatu setting tertentu. Dengan menutup suatu ruang maka panas dalam ruang tersebut meningkat yang berakibat ruang lain mungkin menjadi sejuk, namun ini akan meningkatkan kepadatan pemakai yang berada disitu sampai menurunkan temperature pada tingkat yang tidak nyaman. Perabot yang usang dan ruang yang panas jarang digunakan oleh siapapun dan hanya ruang tertentu yang menjadi tujuan spesifik yang kerap penuh sesak meskipun kurang nyaman.

Perilaku dihubungkan dengan setting fisik adalah organisasi yang dinamis; suatu perubahan dalam setiap komponen setting mempunyai tingkat efek yang beraneka menyangkut komponen keseluruhan dalam setting tersebut. Karenanya merubah karakter pola perilaku harus secara menyeluruh.

Dengan berbagai batasan diadakan beberapa percobaan untuk mempelajari efek peningkatan kenikmatan fisik ruang dan kegiatan di dalamnya. Dengan hipotesis bahwa beberapa perubahan / perbaikan perabot akan meningkatkan kegiatan di ruangan tersebut dan akan menurunkan kegiatan di ruangan lainnya. Perubahan ruang yang dibuat membuat pemakai tetap tinggal dalam waktu lama berada di ruangan tersebut dan kurang dalam pemakaian ruangan lain. Ini menyatakan bahwa meski jelas berhubungan dengan asumsi tentang ke-stabil-an dan kebiasan perilaku dalam setting fisik, ada juga asumsi yang boleh disebut sebagai “ perilaku tetap ”. Ketika perubahan dalam setting fisik tidak menjamin/kondusif terhadap pola perilaku yang menjadi karakteristik terhadap suatu setting, maka akan muncul perilaku tanggapan yang bisa berupa menerima, menolak atau bahkan menghindar terhadap setting fisik tersebut. ( Materi kuliah ‘Pengantar Arsitektur dan Perilaku’ oleh Ir.Sri Amiranti.MS. 2000)

Dalam pengamatan terhadap perilaku ternyata dapat dibuat suatu pengaruh untuk mengembangkan kegiatan suatu ruang dengan merobah tatanan perabot. Perubahan lainnya tentu saja dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya dengan menambah jumlah kapasitas dan dengan penjadwalan pemakaian ruang yang berbeda waktu bagi tiap kelompok dengan gerakan kegiatan yang terpola, perabotan, atau penggantian tata letak ruang. Perubahan dalam karakter pola perilaku setting fisik dapat disebabkan oleh perubahan fisik, sosial dan struktur administrative yang terdapat pada setting tersebut.

Asumsi ini merupakan hal yang sangat penting khususnya untuk merencanakan perubahan lingkungan yang condong kepada suatu pemaksaan. Keruwetan yang terjadi dalam suatu ruang dapat dikurangi dengan membangun ruang lainnya atau dengan mengurangi jumlah pemakai. Sejumlah batasan harus diberikan untuk menentukan metode apa yang layak pakai dan sesuai dengan masalahnya. Dalam kenyataannya adalah pemborosan jika mengatasi masalah di atas dengan perubahan fisik jika berbagai metoda lainnya dapat dijalankan. Arsitek biasanya sangat memperhatikan detail keaslian dan tidak begitu peduli dengan biaya membangun gedung. Tapi begitupun akan lebih fleksibel bila dapat ditangani dengan efektif dengan pengelolaan administrasi dan keuangan yang baik. Perubahan setting fisik sebaiknya mempertimbangkan pada kaidah teritory dan privacy seperti yang dinyatakan oleh Altman. Bahwa ‘kepadatan adalah ukuran matematik dari jumlah orang per unit ruang. Sedangkan kesesakan adalah merupakan pengertian psikologis atau perilaku lingkungan. Ini jelas berbeda dalam penanganannya. Kesesakan mungkin akibat kepadatan yang terlalu tinggi dan akhirnya kebutuhan privacy yang terganggu dan menimbulkan pengaruh perilaku yang bisa beraneka ragam. Kesesakan adalah merupakan akibat dari kegagalan mencapai tingkat privacy yang diinginkan.

Setting fisik bukan merupakan ruang yang sederhana sebagai ruangan fisik semata. Setting itu sedemikian terencananya dan sudah dicanangkan untuk dapat melayani obyek yang berada di dalamnya. Perilaku individu yang menggunakannya dalam kontek sosial menunjukkan guna/fungsi dari ruangan itu sekaligus menunjukkan bagaimana cara menggunakannya dan apa yang tak mungkin dapat dilakukan disitu. Untuk tujuan analisa, perlu dirumuskan efek apa yang merubah perilaku manusia dalam setting fisik tertentu. Tentu saja tidak hanya fisikal semata karena perlu memperhitungkan kondisis sosial, administrative dan fisikologikal.

Sejumlah perilaku yang berlangsung bukan hanya dalam hubungan dengan perabot yang baru saja namun juga dengan ‘makna’ sehubungan dengan perilakunya tersebut. Misalnya penataan perabot baru mengartikan bahwa yang punya ruang menginginkan tersebut terpakai atau para tamu tergugah datang di situ karena perabot dan tatanannya yang baru. Dalam beberapa kenyataan asumsi harus dinyatakan dengan terbuka, dengan sistem yang dinamis, tidak terbatasi oleh ruang dan waktu yang secara menerus berlanjut dan berubah.